Gagal Berkembang, Google Kembali Tutup Layanannya


 Google terus menutup beberapa layanan yang berkinerja buruk, perusahaan tersebut mengumumkan pada Selasa, bahwa Friend Connect, Knol dan beberapa layanan lainnya akan ditutup.

"Kami sedang dalam proses menutup sejumlah produk yang tidak memiliki dampak seperti harapan kami," ujar Vice Presiden of operation Googlem Urs Holze dalam sebuah posting blog.

Dilansir PC World, Rabu (23/1/201), Friend Connect akan penjadi yang paling mungkin ditutup. Layanan tersebut memungkinkan website, termasuk fitur sosial di situs mereka sehingga pengunjung dapat melakukan hal-hal seperti menambahkan komentar, sig-in, melihat pengguna lain dan memberikan suara dalam jajak pendapat.

Tidak lama setelah Google meluncurkan Friend Connect pada tahun 2008, Facebook memblokirnya sehingga tidak bisa mengkases data penggunanya dan beralasan bahwa layanan tersebut meredistribusi data Facebook tanpa izin pengguna. Layanan ini bersaing dengan layanan serupa dari Facebook yaitu Facebook Connect.

Perusahaan mesin pencari tersebut juga akan menutup Serch Timeline, yang dapat menampilkan hasil grafik historis untuk permintaan pencarian. Tapi orang masih bisa melihat hasil pencarian dari periode waktu tertentu dengan menggunakan alat-alat yang muncul di sisi kiri halaman pencarian.

Pengguna dapat menemukan tren pencarian informasi lainnya dengan mengunjungi google.com/trends atau google.com/insights/search/.

Google juga menutup Renewable Energy Cheaper, karena menilai organisasi-organisasi lain lebih cocok untuk meneliti teknologi tenaga surya.

Knol, sebuah layanan seperti Wikipedia yang memungkinkan orang berkolaborasi menulis artikel juga akan ditutup. Google juga telah memulai platform penerbitan lain yang disebut Annotum.

sumber : okezone

mengunjungi maskas OPERA di OSLO


Apa yang muncul dalam benak Anda ketika mendengar kata Opera? Salah satu yang mungkin terpikir adalah peramban web (browser) dengan ikon "O" warna merah yang akrab digunakan user untuk menjelajah internet, baik di ponsel, tablet, maupun desktop. Di mata netters, Opera bukanlah hal asing, tetapi faktanya, mungkin belum banyak yang tahu kalau browser ini berasal dari Norwegia. Opera adalah produk yang dikembangkan oleh sebuah perusahaan piranti lunak bernama Opera Software ASA.

Opera Software bermarkas di Kota Oslo. Awalnya, Opera dirintis dari suatu proyek penelitian tahun 1994 pada perusahaan telekomunikasi milik Norwegia, Telenor. Selang setahun kemudian, proyek ini berkembang secara mandiri menjadi sebuah perusahaan bernama Opera Software ASA. Dari semula hanya dikelola sekitar tujuh orang, Opera Software kini telah berkembang pesat menjadi sebuah perusahaan internasional yang mempekerjakan sekitar 700 karyawan berasal dari puluhan negara termasuk dari Indonesia.

Beberapa hari lalu, bersama puluhan wartawan lain dari beberapa negara, Kompas.com mendapat kesempatan menyambangi kantor pusat (headquarter) Opera di Oslo. Kunjungan ini merupakan salah satu agenda di sela-sela penyelenggaraan Up North Web 2011, suatu event akbar tahunan yang digelar Opera untuk memperkenalkan perkembangan browser mereka dan tren di masa depan.

Terletak tak jauh dari jantung kota Oslo, markas Opera yang sudah berumur belasan tahun tampak modern tetapi sederhana. Tak ada kesan mewah atau pun berlebihan pada kantor yang dipimpin oleh Chief Excecutive Officer (CEO) Lars Boilesen itu. Simpel, fleksibel tetapi fungsional, mungkin itulah ungkapan yang paling cocok untuk menggambarkan bangunan yang menjadi bagian penting perjalanan Opera selama ini.

Beralamat resmi di Jalan Waldemar Thranes Gate 98, markas Opera Software terletak di suatu gedung bertingkat lima di dekat sungat Akerselva. Tak ada yang mencolok dari markas Opera karena memang hampir mirip dengan bangunan-bangunan di sekitarnya. Tetapi di sini, ada banyak hal tak terduga yang mungkin bisa ditemukan. Misalnya, gerbang masuk ke kantor Opera ternyata hanyalah sebuah pintu kaca kecil berwarna merah bertuliskan logo Opera Software. Pintu ini merupakan akses utama masuk ke gedung, di mana Opera hanya menempati dua dari lima lantai, yakni lantai 2 dan 4.

Untuk sampai ke kantor Opera, rombongan harus menaiki tangga memutar dan melewati sebuah gang kecil. Tak tersedia lift bagi karyawan atau tamu untuk mengunjungi kantor ini. Benar-benar sederhana bukan?

Rombongan wartawan termasuk di antaranya Kompas.com dan Majalah Infokomputer disambut hangat di resepsionis dengan suguhan kopi dan makanan kecil. Lalu kami dipandu oleh salah satu staff Opera, Zara Lauder, berkeliling ke beberapa sudut kantor.

Rombongan lalu secara singkat menelusuri ruangan demi ruangan, mulai dari ruang kerja para pejabat dan karyawan, kantin, perpustakaan, ruang pertemuan, ruang rekreasi, ruang fitness, hingga tempat penitipan anak. Setiap lantai di gedung markas Opera terhubung oleh tangga, dengan pintu-pintu dan jalan yang sempit tanpa petunjuk arah yang jelas. Masuk ke markas Opera ibarat menyusuri sebuah labirin yang bisa membuat setiap orang tersesat.

Sebagian besar ruangan kerja di markas Opera memang berukuran kecil, didesain minimalis tetapi fungsional. Pada beberapa ruangan, dominasi warna merah khas Opera tampak kental. Selain menyediakan fasilitas lengkap, sistem kerja yang cukup fleksibel membuat para karyawan menjadi lebih nyaman bekerja.

Zara menuturkan, karyawan yang berkantor di gedung pusat Opera di Oslo hanya sekitar 400 orang dan sebagian besar adalah orang Norwegia. Sedangkan sisanya tersebar di beberapa satelit office di beberapa kota yakni di Linkoping, Goteborg, Stockholm (Swedia), Tokyo, Beijing, Seoul, Melbourne (Australia) San Mateo (AS), St Petersburg (Afsel), Wroclaw, Warsawa (Polandia), Taipei, Chandigargh (India) dan Reykjavik (Islandia).

Dengan karyawan yang berasal dari hampir seluruh penjuru dunia, keberagaman budaya dan tradisi dari seluruh dunia dapat menyatu di markas Opera. Hubungan antar karyawan juga selalu dieratkan melalui beberapa kegiatan perusahaan, seperti misalnya aktivitas memasak oleh karyawan dari negara tertentu untuk kemudian dinikmati oleh ratusan karyawan lainnya.

Yang pasti, keragaman kultur yang diciptakan oleh Opera di markasanya memang unik. Inilah upaya yang mereka lakukan untuk memahami kebutuhan user di seluruh dunia. Bagi opera, setiap pribadi memang sangat unik. Oleh karena itulah, mereka selalu berupaya menciptakan browser dengan fitur-fitur yang dapat disesuaikan (personalize) dengan kebutuhan setiap orang.

sumber : kompas

Nokia Tutup Pabrik di Romania, 3.500 Karyawan Kena PHK

HELSINKI, Tingkat persaingan yang semakin tinggi di bisnis seluler menyebabkan bisnis Nokia terguncang. Produsen ponsel dengan volume terbesar dunia ini harus memangkas 3.500 pekerjanya dan menutup pabrik di Romania. Selain itu, Nokia juga harus menata ulang peta bisnis mereka.

Dalam pernyataan resminya, Jumat (30/9/2011), Nokia menyatakan, pihaknya akan menelaah sejumlah pabrik di Finlandia, Hongaria, dan Meksiko. Diprediksi, jumlah karyawan yang akan dirumahkan Nokia kian bertambah pada tahun depan.

Langkah perampingan ini terpaksa diambil Chief Executive Officer Nokia Stephen Elop agar dapat bersaing dengan para kompetitor. Nokia juga sudah memiliki lokasi untuk bisnis perdagangan yang nantinya menyatukan unit-unit di Bonn, Jerman, dan di Malvern, Pennsylvania, AS.

"Dengan adanya perubahan rencana bisnis ini, kami akan menjadi lebih dinamis dan efektif," kata Elop. Dia pun berjanji akan tetap mempertahankan fasilitas penelitian dan pengembangan Nokia di Eropa.

artikel dikutip dari kompas.com

Hatta Rajasa Pakai Produk Apple sejak 1980


Wafatnya pendiri Apple, Steve Jobs, memberikan kesan mendalam bagi Hatta Rajasa, Menteri Koordinator Perekonomian. Pasalnya, Hatta adalah pengguna produk Apple sejak tahun 1980.

Selain perlu diingat karena Jobs merupakan pendiri perusahaan besar, Hatta juga mendorong para pengusaha muda meneladani perilaku Jobs sepanjang hidupnya.

Salah satunya adalah sikap Jobs yang tidak hanya menjual produk, tetapi membuat bagaimana orang mengerti dengan signifikansi produk yang dihasilkannya.

"Jobs juga menginspirasi kita untuk bermimpi dan mewujudkan mimpi itu. Mimpi itu dibutuhkan bagi calon enterpreneur karena menjadikannya semakin kreatif. Kreativitas yang terbentuknya tak terbatas," ujar Hatta di Serpong, Tangerang Selatan, Jumat (7/10/2011).

"Banyak orang yang merasakan kehilangan Jobs. Saya sebagai seorang pengguna Apple mulai 1980-an sampai saya gunakan Macbook saat ini," katanya ketika berorasi di hadapan Peserta Pelatihan Wirausaha Ondustri Inovatif di Pusat Penelitian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Puspiptek) Serpong.

Menurut Hatta, ketika Jobs wafat, mulai dari pebisnis pemula hingga Presiden AS Barack Obama berduka dan merasa kehilangan. Alasannya, Jobs bukan hanya menjual sebuah produk Apple, melainkan menjual sebuah mimpi bagi generasi pemimpi. Sikap Jobs itu, kata dia, mengubah cara pandang manusia melihat dunia.

"Tugas kita adalah bagaimana kita kemudian mampu menjadi pemimpi-pemimpi yang mampu mengubah cara pandang kita melihat dunia," katanya.

Hatta menuturkan, manusia akan mampu menghargai orang lain dan menghargai sebuah kreativitas dan inovasi manakala ia melihat proses pembuatan produk itu. Kelemahan manusia itu terkadang tidak sabar untuk melihat sebuah proses yang menghasilkan sebuah karya besar.

Wirausahawan harus belajar dari Jobs, terutama karena Jobs tidak langsung sukses, bahkan pernah diusir dari perusahaannya karena terlalu kreatif. "Wirausahawan tidak pernah mengeluh, bangkit manakala jatuh," kata Hatta.

artikel di kutip dari kompas.com

recent posts